Ilustrasi, sumber foto: GETTY IMAGES
Galaxy Kiu - Juru bicara Taliban, Syed Zekrullah Hashimi, mengatakan tugas utama perempuan adalah melahirkan dan membesarkan anak. Hashimi juga mengatakan Taliban tidak membutuhkan perempuan di kabinet pemerintahannya.
“Seorang perempuan tidak bisa menjadi menteri. Itu seperti Anda membebankan leher mereka dengan sesuatu yang tidak mampu mereka angkut. Para pengunjuk rasa sama sekali tidak mewakili seluruh perempuan di Afghanistan," kata Hashimi dalam wawancara dengan Tolo News, seperti dikutip NDTV.
Taliban percaya hanya sedikit wanita yang menentang mereka
Mendengar jawaban ini, pewawancara melanjutkan dengan mengatakan bahwa Taliban telah mengabaikan setengah dari suara perempuan Afghanistan.
Hashimi juga menimpali, “kami tidak pernah menganggap mereka setengah. Setengah apa maksudnya? Itu adalah definisi yang salah."
“Maksud saya adalah tidak semua perempuan Afghanistan. Empat perempuan yang berunjuk rasa di jalan tidak mewakili keseluruhan perempuan Afghanistan, yang disebut sebagai perempuan Afghanistan adalah mereka yang melahirkan rakyat dan mendidik (anak-anak) mereka tentang etika Islam," lanjutnya.
Peraturan perguruan tinggi untuk perempuan
Taliban juga telah mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk belajar hingga perguruan tinggi. Namun, Taliban meminta wanita untuk mengikuti sejumlah aturan yang mereka buat di dalam universitas.
Wanita diperbolehkan kuliah dengan syarat wajib berhijab. Namun, tidak ada kepastian dari Haqqani apakah perempuan diwajibkan memakai niqab atau burqa untuk kuliah.
Selain itu, segregasi gender juga akan ditegakkan. Artinya, perempuan tidak bisa belajar di ruangan yang sama dengan laki-laki, atau paling tidak dipisahkan oleh tirai.
"Kami tidak akan mengizinkan anak laki-laki dan perempuan untuk belajar bersama," kata Menteri Pendidikan Abdul Baqi Haqqani, dikutip Al Jazeera.
Selain itu, metode pengajaran juga dapat dilakukan melalui streaming atau saluran TV tertutup.
Mahasiswi harus diajar oleh dosen wanita
Nantinya para mahasiswa akan diajar oleh dosen perempuan. Dia mengatakan banyak guru perempuan bisa mengajar siswa perempuan di Afghanistan.
“Alhamdulillah kami memiliki banyak guru perempuan. Kami tidak akan menghadapi masalah dalam hal ini. Segala upaya akan dilakukan untuk mencari dan menyediakan guru perempuan bagi siswa perempuan,” katanya.
Namun, jika tidak ada dosen perempuan, Taliban mengizinkan dosen laki-laki mengajar dengan syarat mahasiswa harus memakai cadar.
“Kalau memang ada kebutuhan, laki-laki juga bisa mengajar, tapi sesuai syariah, mereka harus menjaga cadar,” kata Haqqani.



0 Komentar